ShaF's Medical Blog

MEDIC MADE EASY

Ulkus Kornea Desember 17, 2011

Filed under: Mata,Populer — shafariyah @ 1:45 pm
Tags: , ,

BAB I
PENDAHULUAN

Ulkus kornea termasuk kasus kegawat daruratan pada penyakit mata dimana mata terancam akan kehilangan fungsi penglihatan atau terjadi kebutaan bila tidak dilakukan tindakan ataupun pengobatan secepatnya. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai sehingga penatalaksanaan yang tepat akan dapat mengurangi komplikasi yang dapat ditimbulkan.1
Dalam keadaan normal kornea adalah transparan. Transparansi ini disebabkan oleh tidak adanya pembuluh darah dan jaringan kornea yang strukturnya seragam serta berfungsinya mekanisme pompa oleh endotel. Penyakit kornea adalah penyakit yang serius karena penanganan yang tidak sempurna atau terlambat akan mengakibatkan gangguan penglihatan permanen berupa peglihatan yang kabur ringan hingga kebutaan.2
Ulkus biasanya terbentuk akibat infeksi oleh bakteri, jamur virus atau protozoa, selain itu dapat disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi, penyakit kolagen vaskuler, kekurangan vitamin A atau protein, dan mata kering. Faktor resiko terbentuknya antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di mata, dan iritasi akibat lensa kontak.3

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. DEFINISI
Ulkus Kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat uuntuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endoftalmitis.1,2

B. ETIOLOGI
Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius karena menyebabkan gangguan tajam penglihatan, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus biasanya terbentuk akibat infeksi oleh bakteri (misalnya stafilokokus, pseudomonas, atau pneumokokus), jamur virus (misalnya herpes) atau protozoa akantamuba, selain itu ulkus kornea disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi dan penyakit kolagen vaskuler. Kekurangan vitamin A atau protein, mata kering (karena kelopak mata tidak menutup secara sempurna dan melembabkan kornea). Faktor resiko terbentuknya antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di mata, dan iritasi akibat lensa kontak.3
Penyebab ulkus kornea antara lain sebagai berikut :
1. Infeksi bakteri
Bakteri yang sering menyebabkan ulkus kornea adalah Streptokokus alfa hemolitik, Stafilokokus aureus, Moraxella likuefasiens, Pseudomonas aeroginosa, Nocardia asteroids, Alcaligenes sp, Streptokokus anaerobic, Streptokokus beta hemolitik, Enterobakter hafniae, Proteus sp, Stafilokokus epidermidis, infeksi campuran Erogenes dan Stafilokokus aureus.
2. Infeksi jamur
Disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.
3. Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang).
4. Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh tubuh.
5. Lagophtalmus akibat parese N. VII dan N.III
6. Trauma yang merusak epitel kornea 1,2
7. Idiopatik , misal ulkus Mooren 4

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA
Kornea merupakan membran pelindung dan ‘jendela’ yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Kornea meliputi seperenam dari permukaan anterior bola mata. Kelengkungannya lebih besar dibandingkan permukaan mata lainnya. Perbatasan antara kornea dan sklera disebut sebagai limbus (ditandai dengan adanya sulkus yang dangkal – sulkus sklera). Kornea terdiri dari 3 lapisan yaitu epitel, substansi propria atau stroma dan endotel. Diantara epitel dan stroma terdapat lapisan atau membran Bowman dan diantara stroma dan endotel terdapat membran descemet.1,2
Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea udem karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.2

Gambar 1. Struktur Kornea3

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam:
1. Lapisan epitel
a. Tebalnya 50 µm , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.
b. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
c. Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.
d. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.
2. Membran Bowman
a. Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
b. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Jaringan Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
a. Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
b. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 µm.

5. Endotel
a. Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 mm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.3
b. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.1,2,3

Gambar 2. Histologi Kornea
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.2,5
D. PATOFISIOLOGI
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.6
Patologi ulkus kornea tanpa perforasi dibagi dalam 4 Fase :
1. Fase Infiltrasi Progresif
Karakteristik dari tingkat ini aialah infiltrasi sel – sel PMN dan atau limfosit ke dalam epitel dari sirkulasi perifer. Selanjutnya dapat terjadi nekrosis dari jaringan yang terlibat bergantung virulensi agen dan pertahanan tubuh host.
2. Fase Ulserasi Aktif
Ulserasi aktif merupakan hasil dari nekrois dan pengelupasan epitel, membran Bowman, dan stroma yang terlibat. Selama fase ulserasi aktif terjadi hiperemia yang mengakibatkan akumulasi eksudat purulen di kornea. Jika organisme penyebab virulensinya tinggi atau pertahanan tubuh host lemah akan terjadi penetrasi yang lebih dalam selama fase ulserasi aktif.
3. Fase Regresi
Regresi ditimbulkan oleh sistem pertahanan natural (antibodi humoral dan pertahanan seluler) dan terapi yang memperbesar respon host normal. Garis batas yang merupakan kumpulan leukosit mulai timbul di sekitar ulkus, lekosit ini menetralisir bahkan memfagosit organisme debris seluler. Proses ini disertai vaskularisasi superfisial yang yang meningkatkan respon imun humoral dan seluler. Ulkus mulai menyembuh dan epitel mulai tumbuh dari tepi ulkus.
4. Fase Sikatrisasi
Pada fase ini penyembuhan berlanjut dengn epitelisasi progresif yang membentuk sebuah penutup permanen. Di bawah epitel baru terbentuk jaringan fibrosa yang sebagain berasal dari fibroblas kornea dan sebagian lagi berasal dari sel endotel pembuluh darah baru. Stroma menebal dan mendorong permukaan epitel ke anterior. Derajat sikatrik bervariasi, jika ulkus sangat superfisial dan hanya melibatkan epitel maka akan menyembuh sempurna tanpa bekas. Jika ulkus melibatkan memran Bowman dan sedikit lamela stroma superficial maka akan terbentuk sikatrik yang disebut “nebula”. Apabila ulkus melibatkan hingga lebih dari sepertiga stroma akan membentuk “makula”dan “leukoma”.4

a. Fase Infiltrasi progresif

b. Fase ulserasi aktif

c. Fase regresi

d. Fase sikatrisasi
Gambar 3. Diagram ulkus kornea tanpa perforasi4

A. B.
C. D.
Gambar 4. Fase sikatrisasi
A. nebular B. macular C. leucoma D. adherent leucoma4

Ulkus kornea dengan perforasi terjadi jika proses ulserasi berlanjut lebih dalam dan mencapai membran Descemet, membran ini akan mengeras dan membengkak ke luar menjadi desmatokel. Pada fase ini semua pengerahan tenaga pada pasien seperti saat batuk, bersin, dll. akan membuat perforasi. Segera setelah terjadi perforasi cairan aqueous akan keluar, tekanan intra okuler akan turun dan diafragma iris-lensa akan lepas.4

Gambar 5. Desmatokel4

Gambar 6. Ulkus kornea perforasi dengan prolaps iris4
Efek perforasi bergantung pada posisi dan ukuran perforasi. Jika perforasi kecil dan berlawanan dengan jaringan iris, biasanya akan disumbat oleh jaringan sikatrik dengan cepat dan menyembuh. Hasil paling umum dari proses ini adalah leukoma adherent.4
E. KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:
a. Ulkus kornea sentral
a. Ulkus kornea bakterialis
b. Ulkus kornea fungi
c. Ulkus kornea virus
d. Ulkus kornea acanthamoeba
2. Ulkus kornea perifer
a. Ulkus marginal
b. Ulkus Mooren
c. Ulkus cincin (ring ulcer)2

1. Ulkus Kornea Sentral
a. Ulkus Kornea Bakterialis
1) Ulkus Streptokokus
Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia.
2) Ulkus Stafilokokus
Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.
3) Ulkus Pseudomonas
Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak.2

Gambar 7. Ulkus kornea bakteri dengan hipopion7

Gambar 8. Ulkus kornea bakteri tanpa hipopion4

4) Ulkus Pneumokokus
Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.
b. Ulkus Kornea Fungi
Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang serta terdapat injeksi siliar disertai hipopion.1,2

Gambar 9. Ulkus kornea jamur7

c. Ulkus Kornea Virus
1. Ulkus Kornea Herpes Zoster
Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.
2. Ulkus Kornea Herpes simplex
Infeksi primer yang disebabkan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya.1,2

Gambar 10. Ulkus kornea herpes simplek 3

d. Ulkus Kornea Acanthamoeba
Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural.7

Gambar 11. Ulkus kornea acanthamoeba7
2. Ulkus Kornea Perifer
a. Ulkus Marginal
Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

Gambar 12. Ulkus Marginal 4
b. Ulkus Mooren
Merupakan ulkus yang berjalan progresif, kronik, yang menyerang stroma kornea perifer dan epitel. Biasanya ulkus berjalan dari perifer kornea kearah sentral, menyebar secara sirkumferensial dan sentripetal. Penyebab ulkus mooren sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Gejala klinis antara lain nyeri pada mata, fotofobia dan mata sering berair. Ulkus Mooren unilateral biasanya menyerang orang berusia lanjut sedang ulkus bilateral lebih umum pada populasi di Afrika dengan progresifitas cepat dan berespon jelek pada intervensi medis maupun bedah.5

Gambar 13. Ulkus Mooren5

Gambar 14. Ulkus Mooren4
c. Ring Ulcer
Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi. Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral.4

Gambar 15. Ring ulcer4

F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa :
a. Gejala Subjektif
a. Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
b. Sekret mukopurulen
c. Merasa ada benda asing di mata
d. Pandangan kabur
e. Mata berair
f. Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
g. Silau
h. Nyeri
i. Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.

b. Gejala Objektif
a. Injeksi siliar
b. Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat
c. Hipopion1

G. DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.2,8
Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. 6
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :
1. Ketajaman penglihatan
2. Tes refraksi
3. Tes air mata
4. Pemeriksaan slit-lamp
5. Keratometri (pengukuran kornea)
6. Respon reflek pupil
7. Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
8. Pada pewarnaan akan tampak defek epitel pada kornea yang dilihat dengan cobalt blue light 3
9. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH). Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.2

H. PENATALAKSANAAN
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.1
1. Penatalaksanaan medikamentosa
a. Antibiotik topikal
Terapi inisial (sebelum didapatkan hasil kultur dan tes sensitivitas) hendaknya diberikan antibiotik spektrum luas. Dianjurkan tetes mata gentamycin (14 mg/ml) atau tobramycin (14mg/ml) bersama dengan cephazoline (50mg/ml), setiap setengah hingga satu jam untuk beberapa hari pertama kemudian dikurangi menjadi per dua jam . Setelah respon yang diinginkan tercapai, tetes mata dapat diganti dengan Ciprofloxacin (0.3%), Ofloxacin (0.3%), atau Gatifloxacin (0.3%).
b. Antibiotik sistemik
Biasanya tidak diperlukan. Akan tetapi, cephalosporine dan aminoglycoside atau oral ciprofloxacin (750 mg dua kali sehari) dapat diberikan pada kasus berat dengan perforasi atau jika sklera ikut terkena.
c. Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :
1) Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole
2) Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol
3) Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
4) Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotik
d. Anti Viral
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat indikasi.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer. Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap perkembangbiakan kuman penyebabnya.
e. Obat Siklopegik
Dianjurkan salep mata atau tetes mata atropin 1% untuk mengurangi nyeri karena spasme siliar dan untuk mencegah pembentukan sinekia posterior karena iridosiklitis sekunder. Atropin juga meningkatkan suplai darah ke uvea anterior dengan mengembalikan tekanan di arteri siliaris anterior sehingga membawa lebih banyak antibodi di aqueous humour, juga mengurangi eksudat dengan menurunkan permeabilitas vaskular dan hiperemi. Siklopegik lain yang dapat digunakan ialah tetes mata homatropin 2%. 1,2,4
Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine :
1) Sedatif, menghilangkan rasa sakit.
2) Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
3) Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru.1
f. Obat analgesik sistemik dan anti inflamasi
Paracetamol and ibuprofen dapat menghilangkan rasa sakit dan mengurangi edem.4 Atau dapat pula diberikan tetes mata pantokain atau tetrakain.1
g. Vitamin
Vitamins (A, B-complex dan C) membantu mempercepat penyembuhan ulkus.4
h. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5°C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh.
i. Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan.1,4

2. Penatalaksanaan non medikamentosa
a. Konsumsi makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat.
b. Penggunaan kaca mata gelaap untuk mengurangi fotofobia.
c. Sebaiknya mata yang sakit tidak dibebat.3

3. Penatalaksanaan Bedah
a. Kauterisasi
1) Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni trikloralasetat
2) Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan.1
b. Debridement mekanik
Debridement mekanik dilakukan untuk menghilangkan material nekrosis dengan mengerok dasar ulkus dengan spatula dengan bantuan anestesi lokal. Debridement ini dapat mempercepat penyembuhan.
c. Flap Konjungtiva
Cornea ditutup dengan flap konjungtiva sebagian atau seluruhnya unyuk menyokong jaringan yang lemah.4
d. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika penatalaksanaan diatas tidak berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1) Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
2) Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
3) Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.3

Fig. 5.23. Technique of keratoplasty : A, excision of donor corneal button; B & C, excision of recipient corneal button; D, suturing of donor button into recipient’s bed; E, showing pattern of continuous sutures in keratoplasty; F, Clinical photograph of a patient with interrupted sutures in keratoplasty.

Gambar 16. Keratoplasti 4

I. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
1. Komplikasi paling serius ialah perforasi kornea dengan infeksi sekunder
2. Perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
3. Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat Prolaps iris
4. Sikatrik kornea
5. Katarak sekunder
6. Glaukoma sekunder9

J. PENCEGAHAN
Trauma yang kecil dapat menyebabkan luka pada kornea dan berlanjut menjadi ulkus bahkan kebutaan. Untuk itu diperlukan pencegahan antara lain sebagai berikut :
1. Menggunakan pelindung mata apabila bekerja di tempat yang terekspos partikel kecil yang dapat masuk ke mata.
2. Menggunakan air mata buatan untuk mata kering atau jika kelopak mata tidak dapat menutup sempurna.
3. Berhati – hati jika menggunakan lensa kontak :
a. Selalu mencuci tangan sebelum memegang lensa kontak
b. Melepas lensa kontak setiap malam dan membersihkan lensa kontak dengan hati – hati dengan pembersih khusus
c. Jangan pernah tidur dengan menggunakan lensa kontak
d. Menyimpan lensa kontak di tempat khusus dengan direndam larutan desinfektan semalaman
e. Segera melepas lensa kontak jika mata teriritasi dan tidak memakainya hinggga kondisi mata membaik
f. Membersihkan tempat penyimpanan lensa kontak secara reguler. 10
K. PROGNOSIS
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi.
Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik. 8

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta :FKUI.
2. Vaughan, D. 2000. Opthalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika.
3. Olver, J dan Cassidy, L. 2005. Ophthalmology at A Glance. Massachusetts : Blackwell Science.
4. Khurana, A.K. 2007. Comprehensive Ophthalmology. 4th Edition. New Delhi : New Age International Ltd.
5. Sutphin, John E. 2008. Section 8: External Disease and Cornea in Basic and Clinical Science Course. San Francisco : American Academy of Ophthalmology.
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. 2002. Ulkus Kornea dalam : Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran.Edisi ke 2. Jakarta : Sagung Seto.
7. Lang, Gerhard K. 2000. Ophthalmology : A Short Text Book. New York : Thieme Stuttgart
8. Suharjo, Fatah Widido. 2007. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier.
http:// http://www.tempo.co.id. (diakses 26 Oktober 2011)
9. Lopez, Fernando H Murillo. 2010. Corneal ulcer
http://emedicine.medscape.com/article/1195680-overview (diakses 26 oktober 2011)
10. Dahl, Andrew A. 2007. Corneal Ulcer
http://www.emedicinehealth.com/corneal_ulcer/article_em.htm (diakses 26 Oktober 2011)

 

One Response to “Ulkus Kornea”

  1. prima b ismet Says:

    Dear SHAF’S MEDICAL,

    Dengan hormat,
    Saya memerlukan informasi mengenai pengobatan penyakit kornea Sikatrik utk orang tidak mampu secara ekonomi. Mohon dibantu informasi krn sy menjumpai orang yg menderita penyakit ini yang sangat membutuhkan pertolongan utk penyembuhan.
    Mohon informasi dikirim ke pbareno1001@gmail.com atau di nomor saya yang tercantum dibawah ini.
    Demikian saya sampaikan dan terimakasih atas bantuannya.
    Prima B Ismet.
    Hp. 081288496066 / 02191946089


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s