ShaF's Medical Blog

MEDIC MADE EASY

PSEUDOMONAS AERUGINOSA PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK Desember 17, 2011

Filed under: Populer,THT — shafariyah @ 1:55 pm
Tags:

Journal Reading

PSEUDOMONAS AERUGINOSA PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK: SPEKTRUM SENSITIVITAS TERHADAP BERMACAM-MACAM ANTIBIOTIK DI KARACHI

Latar belakang : Otitis Media Supuratif kronik (OMSK) merupakan infeksi yang umum dan dikenal di negara berkembang, menyebabkan kerusakan lokal yang serius dan komplikasi yang mengancam. Pengobatan awal dan efektif berdasarkan pengetahuan menyebabkan mikroorganisme dan hasil sensitivitasnya pada pemulihan klinis yang baik dan mencegah kerusakan dan komplikasi. Pseudomonas aeruginosa patogen yang paling banyak menyebabkan OMSK di Pakistan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kejadian Pseudomonas aeruginosa yang terlibat dalam OMSK dan sensitivitas terhadap antibiotik yang biasa diberikan.
Metode : Total dari 263 pasien dengan otitis media supuratif kronik bilateral atau unilateral yang terdaftar dalam penelitian di bagian THT fakultas kedokteran dan kedokteran gigi universitas karachi dan rumah sakit Abbasi Shaheed, Karachi, Pakistan dari bulan Desember 2004 sampai Mei 2006. Swab steril digunakan untuk mengumpulkan pus dari discharge telinga dan diletakkan pada agar darah dan agar MacConkey selama 24 sampai 48 jam. Kerentanan antibiotik diuji dengan konsentrasi penghambatan minimum (MIC) metode menggunakan Mueller Hinton-agar.
Hasil : Mikrobiologi secara keseluruhan pada 267 sampel dari 263 pasien yang diteliti, termasuk didalamnya 4 discharge bilateral. Pertumbuhan Polymicroba pada 8 sampel. Sebanyak 275 isolasi bakteri yang dipelajari,Pseudomonas aeruginosa (40%) dan Staphylococcus aureus (30.9%) adalah bakteri yang paling banyak ditemukan pada OMSK. MIC hanya dilakukan pada Pseudomonas aeruginosa karena merupakan patogen yang paling sering ditemukan di OMSK. Pola sensitivitas dari Pseudomonas aeruginosa menunjukkan bahwa amikasin aktif melawan 96% isolat kuman diikuti ceftazidime 89%, siprofloksasin 85%, gentamisin 81%, imipenem 76%, aztreonam 42% dan ceftriaxone 21%.
Kesimpulan: Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri yang paling umum terisolasi dari discharge telinga kronik diikuti oleh Staphylococcus aureus. Amikasin terbukti menjadi obat yang paling cocok, diikuti oleh ceftazidime dan ciprofloxacin untuk Pseudomonas aeruginosa. Resistensi terhadap ceftriaxone dan aztreonam ditemukan sangat tinggi.
Kata kunci : otitis media supuratif kronik, resistensi antibiotik, Pseudomonas aeruginosa

PENDAHULUAN
Otitis media adalah infeksi pada telinga tengah disebabkan oleh bakteri, jamur, dan virus yang menyebabkan peradangan pada lapisan mukosa. Otitis media berulang dapat menyebabkan kerusakan pada tulang, nervus facialis dan koklea, menyebabkan kehilangan pendengaran yang permanen. Otitis media dapat akut atau kronis. Bentuk yang akut biasanya berhubungan dengan infeksi pada saluran pernafasan bagian atas sedangkan bentuk persisten dikenal sebagai otitis media supuratif kronis (OMSK).
Bentuk kronis masih merupakan masalah utama di negara berkembang seperti Pakistan. Hal ini lebih sering terjadi pada anak pada kelompok sosial ekonomi rendah. Mikroorganisme yang paling banyak ditemukan pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Aspergillus spp dan Candida spptetapi organisme ini bervariasi dalam wilayah geografis yang berbeda.
Terapi antimikroba digunakan untuk menghancurkan bakteri penyebab otitis media tetapi sebagian besar mikro organisme resisten terhadap antibiotik. Di negara berkembang, masalah ini semakin bertambah karena penyalahgunaan antibiotik. Faktor-faktor penting yang terkait disini ditemukan kebersihan rumah sakit yang buruk, kepadatan penduduk, kurangnya sumber daya untuk pengendalian infeksi dan kurangnya tenaga kerja yang terlatih dalam pengendalian infeksi rumah sakit.
Resistensi antibiotik bisa alami atau didapat. ada beberapa mekanisme penyebab resistansi bakteri seperti: a) adanya enzim yang menonaktifkan agen antimikroba. b) mutasi pada target antimikroba, yang mengurangi pengikatan agen antimikroba. c) penurunan penyerapan agen antimikroba. d) kelebihan produksi yang ditargetkan agen antimikroba.
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi frekuensi Pseudomonas aeruginosa pada pasien dengan OMSK dan pola kepekaan terhadap antibiotik yang biasanya diberikan di komunitas lokal kami.

METODE DAN BAHAN
Penelitian ini diterapkan pada pasien rawat jalan dari bagian Ilmu kesehatan Gigi Karachi dan RS Abbasi Shaheed. Beberapa klinisi mengisolir discharge telinga yang juga dikumpulkan dari Lab lain di Karachi. Total dari 263 pasien dengan unilateral maupun bilateral OMSK yang terdaftar setelah diketahui riwayat penyakit sesuai umur, lamanya keluar cairan telinga, dan khususnya antibiotik yang diterima. Meskipun pemeriksaan fisik telah dilakukan untuk menentukan OMA / OE. Swab dengan kapas steril digunakan untuk mengumpulkan pus dari discharge telinga. Pasien-pasien yang dipakai adalah dari semua jenis kelamin dan berbagai kelompok umur. Kriteria inklusi dan eksklusi ditentukan kemudian. Pasien dari berbagai kelompok umur, jenis kelamin, dan discharge telinga yang keluar lebih dari 3 bulan diinklusikan. Sedangkan kriteria eksklusi discharge yang keluar kurang dari 3 bulan, discharge dengan MT intak (otitis eksterna) dan pasien yang sedang dalam terapi antibiotik. Secara keseluruhan mikroba dari 275 sampel yang diteliti selama 18 bulan dari Desember 2004 sampai Mei 2006. Hasil swab ditanam pada agar MacConkey (Oxoid CM115), agar darah (Oxoid CM55) dan agar cokelat, dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37 derajat celcius. Identifikasi strain bakteri dilakukan dengan morfologi koloni pada media selektif dan differensial. Semua isolat diuji secara biokimia untuk TSI dan SIM dan uji sitrat di laboratorium asal di mana sampel tersebut diambil.
110 strain isolate dari Pseudomonas aeruginosa diuji kerentanannya terhadap antibiotic dengan metode dilusi agar menggunakan agar Mueller-Hinton (CM337). Antibiotic yang diujikan adalah amikacin (Bristol Myers Sqiubb), gentamicin (Reckitt Buckinser), ciprofloxacin (Sami Pharmaceuticals), ceftazidime (Glaxo Welcome), ceftriaxone (Bosch Pharmaceuticals), imipinem (Merck Sharp & Dohme), dan aztreonam (Bristol Myers Squibb). Konsentrasi inhibisi minimal (MIC) dari antibiotic-antibiotik tersebut diamati sesuai pedoman dari National Committee for Clinical Laboratory Standards.

HASIL
Dari 263 pasien keseluruhan yang dipilih untuk penelitian ini 4 di antaranya memiliki discharge bilateral. 267 sampel semuanya menunjukkan mikroba tunggal, sedangkan pertumbuhan polimikroba muncul pada 8 sampel. Secara keseluruhan terdapat 275 isolat bakteri yang diteliti selama 18 bulan. Usia pasien rata-rata dari 6 bulan sampai 70 tahun. Anak-anak dan dewasa muda lebih terpengaruh dan keduanya berbanding 71% dari semua kasus. Perempuan (52%) lebih sering terkena daripada laki-laki (48%).
Pseudomonas aeruginosa (40%) merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan pada discharge telinga yang kronis, diikuti Staphylococcus aureus (30,9%), Proteus (11,6%), Klebsiella (8%) dan E. coli (4%).
Kerentanan antibiotic diuji dengan metode konsentrasi inhibisi minimal (MIC) menggunakan agar Mueller-Hinton. Pola sensitivitas Pseudomonas aeruginosa menunjukkan bahwa amikasin yang paling aktif melawan 96% isolate diikuti ceftazidime (89%), ciprofloxacin (85%), gentamicin (81%), imipenem (76%), aztreonam (42%) dan ceftriaxon (21%).

PEMBAHASAN
Otitis media supuratif kronis dan berbagai dan berbagai komplikasi yang terkait dengan penyakit ini seperti destruksi lokal struktur telinga tengah yang irreversibel, facial palsy, komplikasi serius intrakranial dan ekstrakranial merupakan kondisi yang paling umum ditemui oleh dokter anak, dokter THT dan dokter umum. OMSK merupakan penyakit yang persisten dan sering menyebabkan destruksi lokal telinga tengah irreversibel.
Dalam penelitian kami, OMSK ditemukan sebagian besar pada anak-anak dan dewasa muda. Hasil yang sama diperoleh di Nigeria dan India. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa alasan seperti anak-anak dan bayi memiliki resistensi yang rendah dan juga karena Tuba Eustachius yang relatif pendek dan lurus (tuba telinga bagian dalam). Akan tetapi di Singapura 23,3% kasus ditemukan pada kelompok usia 31-40 tahun.
Wanita lebih sering terkena daripada laki-laki dan hal ini juga didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Singapura. Berkebalikan dengan hal ini, beberapa studi menunjukkan tren yang berlawanan dimana dilaporkan kejadian pada laki-laki ssebanyak 57,3% dan perempuan 42,7% 10 dan perbedaan ini dapat disebabkan oleh variasi geografis.
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa OMSK di Pakistan terutama disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa diikuti oleh Staphylococcus aureus. Namun, Proteus mirabilis, Klebsiella, E. coli dan bakteri – bakteri lain juga ditemukan.
Dalam beberapa studi yang dilakukan di kota-kota yang selain Pakistan, isolat bakteri menunjukkan hasil yang serupa dalam urutan frekuensi dengan hasil yang kami peroleh tetapi beberapa menunjukkan tren berbeda, hal ini bisa disebabkan oleh variasi dalam mikroorganisme di lokasi yang berbeda serta efek iklim.
Karena Pseudomonas aeruginosa merupakan mikroorganisme yang paling umum yang juga didukung oleh penelitian nasional dan internasional maka penelitian mengenai profil antibiotik resistan dilakukan terhadap tujuh antibiotik. Antibiotik – antibiotik ini berasal dari kelompok aminoglikosida (amikasin, gentamisin), flouroquinolones (ciprofloxacin), sefalosporin (Ceftazidime, ceftriaxone), carbapenem (imipenem), dan monobactam (aztreonam).
Aminoglikosida merupakan antibiotik bakterisid yang mengganggu sintesis protein dan sering digunakan karena aktivitasnya yang melawan bakteri gram negatif. Kami menemukan bahwa Pseudomonas aeruginosa sensitif terhadap aminoglikosida, contohnya, amikasin dan gentamisin dan hal ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya di Nigeria, Nepal, India dan juga di Pakistan. Sebaliknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Pseudomonas tahan terhadap gentamicin.
Flouroquinolon memiliki berbagai aktivitas dan aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa. Flouroquinolon menghambat DNA girase bakteri atau topoisomerase II, sehingga menghambat replikasi DNA dan transkripsi. Resistensi terhadap flouroquinolon pada dasarnya adalah sebuah refleksi mutasi yang merupakan hasil dari tekanan selektif yang terbentuk pada penggunaan antibiotik ini. Dari sebuah studi yang dilakukan di Korea Selatan, dilaporkan bahwa pada pasien dewasa dengan OMSK ditemukan ciprofloxacin yang resisten terhadap Pseudomonas aeruginosa. Dalam penelitian kami 85% dari Pseudomonas aeruginosa ditemukan peka terhadap ciprofloxacin dan dalam berbagai penelitian yang dilakukan di Pakistan, juga dilaporkan bahwa lebih dari 90% dari isolat sensitif terhadap ciprofloxacin. Hal ini menunjukkan bahwa ciprofloxacin sangat efektif dalam masyarakat kita.
Sefalosporin merupakan antibiotik generasi ketiga yang banyak diresepkan dan digunakan untuk membunuh bakteri gram negatif salah satunya adalah Pseudomonas. Jika Pseudomonas sudah resisten terhadap salah satu sefalosporin maka biasanya juga resisten terhadap antibiotik golongan beta laktam. Ceftazidim merupakan salah satu sefaloporin yang efektif dalam menangani kasus infeksi nosokomial dan infeksi pada anak namun tidak efektif untuk membasmi kuman Pseudomonas dan efeknya yang kurang disukai yakni menyebabkan OMSK dan komplikasi otogen lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ceftriaxone dapat digunakan sebagai terapi dengan kombinasi beberapa antibiotik lainnya. Di Pakistan sefaloporin generasi ketiga sangat bermanfaat dalam penanganan OMSK. Dalam penelitian, 89% kasus sensitif terhadap pengobatan ceftazidim, dan 21% sensitif terhadap ceftriaxone.
Imipenem yang merupakan antibiotik golongan karbapenem bekerja melalui protein binding penicilin. Imipenem merupakan antibiotik paling aktif dalam melawan Pseudomonas pada OMSK. Dalam penelitian, 76% kasus ditemukan sensitif terhadap imipenem, 17% intermediet, dan 7 % resisten.
Aztreonam yang merupakan antibiotik golongan monobactam yang memiliki kemampuan membasmi kuman gram negatif juga aktif melawan kuman yang menghasilkan enzim beta laktamase. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Aztreonam masih sensitif untuk pengobatan infeksi pseudomonas, namun dalam penelitian oleh Somekh et al disebutkan lebih dari 50% sudah resisten aztreonam. Aztreonam dapat digunakan untuk pengobatan alternatif.
Pseudomonas merupakan bakteri yang dapat bertahan hidup dalam suhu ruangan, dapat hidup dalam kondisi miskin nutrisi, dan resisten terhadap antibiotik. Kegagalan pengobatan OMSK dikarenakan resistensi terhadap antibiotik. Salah satu penyumbang terjadinya resistensi adalah penggunaan antibiotik yang irasional, tidak tepat, sudah kadaluarsa oleh dokter yang tidak memiliki kompetensi, atau bisa juga terjadi dikarenakan tidak adanya pilihan antibiotik yang tepat untuk pasien yang kurang mampu.

KESIMPULAN
Pseudomonas merupakan kuman kedua penyebab tersering pada OMSK setelah kuman Staphylococcus aureus. Amikasin merupakan antibiotik terpilih, diikuti dengan ceftazidim dan ciprofloxacin. Resistensi dapat terjadi karena pemilihan antibiotik yang tidak tepat, durasi pengobatan yang tidak tepat, dan dosis pengobatan yang tidak tepat. Sangat penting untuk menggunakan antibiotik yang tepat untuk mencegah terjadinya resistensi kuman Pseudomonas.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s