ShaF's Medical Blog

MEDIC MADE EASY

Menelan Kapsul Melongok Usus Halus September 12, 2008

Filed under: Gastrointestinal,Ilmu Penyakit Dalam,Populer — shafariyah @ 7:39 am

 
 

Meneropong isi usus halus kini semakin mudah dilakukan dan hasilnya makin optimal untuk men-diagnosis suatu penyakit.

Pasien juga merasa lebih nyaman ketimbang harus menjalani pemeriksaan dengan metode yang ada sebelumnya. Lewat kapsul yang ditelan, kondisi kesehatan usus halus bisa dideteksi dengan baik.

Matthew Anci (25), atlet bola basket di kampusnya, boleh dikata sehat bugar. Seminggu tiga kali ia main basket. Belum lagi kegiatan olahraga rekreasi yang juga dijalani di sela-sela jadwal kuliahnya. Namun, tampak luar bukan jamninan. Ketika sedang bermain bola basket, ia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Susah bernapas dan kepalanya agak sakit.

Karena dikira sakit flu, Matthew cuek saja. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan tekanan darahnya drop. Ia lantas dilarikan ke unit gawat darurat. Di situ Matthew diberi tahu, ia kehilangan separuh jumlah darah di tubuhnya.

Matthew kemudian menjalani transfusi darah darurat dan didiagnosis menderita wasir internal. Ketika di rumah sakit, ia diperiksa secara lebih lengkap. Tiga bulan berikutnya ia tida mengalami gejala yang sama. Namun, ketika menjalani pemeriksaan gastrointestinal (GI) saat check-up rutin, lagi-lagi diketahui jumlah darahnya turun. Ia pun segera dilarikan ke rumah sakit lagi.

Serangkaian uji dilakukan, tapi penyebab sakitnya belum juga ditemukan. Namun, dokter menduga, perdarahan yang dialami Matthew terjadi pada usus halusnya. Selama di rumah sakit Matthew menjalani uji pamungkas: GI bagian atas, kolonoskopi, suntikan barium (barium enema), pemindaian (scanning) perdarahan, serta pemindaian Meckel. Toh belum juga ada kata sepakat tentang diagnosis yang cocok buat Matthew.

Akhirnya, endoskopi kapsul dianjurkan untuk dicoba. Setelah menelan “kapsul” berukuran 11 x 26 mm itu, dr. Schmelkin – yang melakukan pengujian – mendiagnosis Matthew terserang Meckles diverticulum.

Sebuah kantung kecil di bagian bawah usus halus menyebabkan perdarahan pada daerah GI.

Tambahan, bukan pengganti

  • Sampai saat ini, endoskopi menjadi metode yang umum dipakai untuk melakukan diagnosis saluran cerna.

Sebuah scope (teropong) yang lentur dimasukkan ke tubuh melalui mulut atau anus. Yang lewat mulut dikenal sebagai gastroskopi. Jika lewat anus dinamai kolonoskopi. Untuk meneropong kelainan pada pankreas dan empedu digunakan alat endoscopic retrograde cholangio pancreatography (ERCP).

Secara khusus, panjang gastroskop lebih dari 2,5 m. Banyak pasien yang dicurigai menderita pembentukan ulkus, luka di usus, tumor, penyakit Crohn (semacam radang di saluran pencernaan), penyakit radang usus (IBD), dan sindrom iritasi usus (IBS) harus menjalani prosedur endoskopi macam ini. Namun, alat ini membuat pasien rata-rata stres gara-gara tidak nyaman sehingga perlu dibius.

Selain itu, pemeriksaan endoskopi dengan metode gastroskopi dan kolonoskopi tidak mampu melihat seluruh sistem pencernaan dari mulut hingga anus. Dari atas hanya sampai usus 12 jari. Sementara kolonoskopi mentok sampai ujung usus halus. Usus halus tidak terjamah sama sekali. Padahal, seperti kasus Matthew Anci, banyak penyakit yang penyebabnya ada di situ. “Menggunakan endoskopi biasa sih bisa, tapi sangat tidak nyaman (buat pasien),” ujar dr. Widarjati Sudarto, spesialis penyakit dalam RS Mitra Keluarga, Kelapagading, Jakarta.

Karena itu, Given Imaging Ltd. (Given kependekan dari GastroIntestinal Video Endoscopy), sebuah perusahaan dari Israel yang berdiri pada Januari 1998 bermimpi, alangkah indahnya jika kita bisa berkelana di dalam tubuh manusia seperti cerita fiksi ilmu pengetahuan! Mimpi itu ternyata berhasil mereka wujudkan melalui temuan mereka, kapsul endoskopi.

Namun, Dr. Paul C. Swain dari London Royal College Hospital, yang terlibat dalam penemuan itu menjelaskan bahwa kapsul endoskopi bukanlah teknologi pengganti, tapi tambahan. “Teknologi ini tidak invasif, tidak mahal, mengurangi kecemasan, dan membuat pasien masih bisa beraktivitas sehari-hari sementara pemeriksaan berjalan,” katanya.

Kebanyakan penyakit yang menyerang usus halus berhubungan dengan infark, peradangan, dan pembentukan ulkus di wilayah usus halus. Mereka tidak bisa dideteksi melalui endoskopi atau radiologi. “Radiologi tidak bisa mengambil polip kurang dari 5 mm, tapi kapsul endoskopi tanpa kesulitan bisa mengendus sampai resolusi 0,1 mm,” promosi dr. Gavriel Meron, direktur utama Given Imaging Ltd.

Maju mundur sama saja

  • Prosedur endoskopi kapsul ini sederhana saja. Sebelum menjalani pemeriksaan, pasien wajib puasa. “Lebih bagus kalau isi perutnya juga dikuras,” kata dr. Widarjati.

Jika sudah siap, pasien tinggal menelan sebuah kapsul. Sebuah perekam nirkabel yang dilengkapi dengan delapan sensor yang dipasang di delapan titik (tiga buah di perut bagian atas, tiga di perut bagian tengah, serta dua di perut bagian bawah di atas pangkal paha) dan terpasang di sabuk pasien menerima sinyal yang dikirimkan kapsul. Dengan begitu pasien masih bisa melakukan kegiatan sehari-harinya selama menjalani pemeriksaan GI.

Di dalam kapsul mungil itu tersimpan kamera mini dengan sudut pandang 140o. Berhubung lorong yang dilalui gelap, kapsul itu dilengkapi senter dari jenis light emiting diode (LED). Tentu butuh baterai sebagai catu daya. Baterainya mampu bertahan 8 – 10 jam.

Diperkirakan, selama itulah perjalanan menyusuri lorong pencernaan manusia. Baterai ini tidak bisa diisi ulang. “Jadi, jangan khawatir Anda akan diberi kapsul bekas,” canda dr. Widarjati.

Sensor gambar yang dibawanya buatan Micron dan berjenis complementary metal-oxide semiconductor (CMOS). CMOS ini tidak boros tenaga dalam mengambil gambar berkualitas tinggi dibandingkan dengan charged coupled device (CCD).

Kapsul itu berjalan karena gerak peristaltik usus. Ini gerak normal usus yang mirip tangan meremas. Begitu kemasan kapsul dibuka, otomatis lampu langsung menyala. Begitu ditelan, kapsul dengan cepat masuk ke lambung. Melalui gelombang radio, gambar yang terekam dikirim ke sebuah chip yang tersimpan di pinggang pasien melalui delapan sensor tadi. Selama sekitar delapan jam beroperasi, gambar yang terekam berjumlah sekitar 57.000 citra. Kira-kira dua frame per detik.

Setelah selesai, perekam nirkabel tadi ditempatkan di sebuah dok khusus yang kemudian akan memindahkan gambar terekam ke peranti lunak khusus, Reporting and Processing of Images and Data (RAPID).

Maka, terciptalah sebuah klip video yang berisi gambaran tentang bagian dalam usus halus.

Karena tidak dikendalikan, bisa saja jalannya kapsul itu maju atau mundur. “Hasilnya toh sama saja. Soalnya usus halus itu sempit sekali sehingga gambar yang terekam ya kondisi permukaan dinding usus halus. Beda dengan lambung atau usus 12 jari. Kapsul bisa jadi hanya merekam sebagian sisi saja sehingga hasilnya tidak akurat,” jelas dr. Widarjati.

Selama masa pengembangan, sempat muncul pemikiran untuk menaruh chip perekam di dalam kapsul. Setelah kapsul menelusuri tubuh pasien, chip diambil untuk dianalisis hasil rekamannya. Dengan begitu tidak perlu lagi sensor yang ditempelkan pada tubuh pasien dan perekam nirkabel.

Namun untuk mewujudkan gagasan itu sangat sulit, khususnya soal pemasangan kapasitas memori di ruangan kapsul yang mungil itu. Persoalan lain, bagaimana atau kapan mengetahui kapsul itu akan keluar. “Soalnya, pernah tercatat ada yang tiga bulan tidak keluar-keluar,” ujar Widarjati yang juga konsultan gastroentero hepatologi. Masak harus menunggu selama itu ?

Lebih disukai pasien

  • Ketika dilakukan uji coba yang dikoordinasi oleh FDA di New York, Amerika Serikat, sistem diagnosis dari Given Imaging ini memberikan hasil bagus.

Kapsul endoskopi ini mampu mendeteksi kelainan pada 12 pasien (60%) sementara push enterescopy hanya tujuh pasien dari 20 pasien uji (atau 35%). Ketika mendeteksi luka di usus, kapsul endoskopi berhasil menangkap luka pada 12 pasien dari 14 pasien uji (86%), dibandingkan dengan tujuh pasien dari 14 pasien uji (50%) jika menggunakan push enterescopy.

Uji coba itu melibatkan 20 pasien dengan dugaan ada kelainan di usus halus. Seluruh pasien sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan endoskopi GI dan radiologi untuk mengidentifikasi sumber kelainan di usus halus mereka. Tak ada kesimpulan yang diperoleh dari serangkaian tes tadi.

Blair S. Lewis, M.D., guru besar tidak tetap kedokteran klinis di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York dan anggota Dewan Penasihat Medis Given Imaging, yang mengomandani uji klinis itu berkomentar, “Sejauh yang saya tahu, kapsul endoskopi ini bisa mengidentifikasi penyakit-penyakit di usus halus yang tidak terendus oleh metode standar. Karena prosedur ini tidak perlu pembiusan, tentu saja pasien lebih suka cara ini daripada push enteroscopy.”

Agustus 2001, kapsul endoskopi bermerek M2A ini memperoleh persetujuan dari FDA. Pasar Amerika Serikat memang menjanjikan, sebab di sini ada 60 – 70 juta orang yang terserang penyakit saluran pencernaan. Logo CE sendiri sudah diterima bulan Mei tahun yang sama. M2A bisa digunakan untuk mendiagnosis penyakit-penyakit yang ada di usus halus seperti penyakit Crohn, celiac, dan gangguan penyerapan lainnya, serta tumor (jinak dan ganas).

Namun, tidak semua orang bisa menelan kapsul ini. Pada beberapa orang yang memiliki sumbatan-sumbatan di usus metode ini tidak dianjurkan. Takutnya, nanti kapsul tertahan sehingga pemeriksaan tidak berjalan mulus. Mereka yang pernah menjalani operasi perut dan memiliki kesulitan dalam menelan juga dilarang mencoba metode ini.

source : http://depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=294

 

4 Responses to “Menelan Kapsul Melongok Usus Halus”

  1. apip Says:

    selain endoskopi juga ada alternatif lain yaitu di unit radiology…

  2. basri Says:

    trimakasih atas infonya, namun masih perlu info lainnya. di indonesia Rumah Sakit mana yang dapat melakukan pelayanan kapsul endoskopi tersebut.trimakasih dan kita tunggu infonya.

    • shafariyah Says:

      Di solo sudah ada di RS Dr.Moewardi, di Semarang bisa di RS dr.Karyadi, di Jogja di Rs. dr. Ssardjito
      setahu saya di rumah sakit pendidikan ada fasilitas tersebut (RSCM, Dr. Soetomo, dll)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s