ShaF's Medical Blog

MEDIC MADE EASY

Kedokteran Integratif Juni 21, 2008

Filed under: Populer,Uncategorized — shafariyah @ 2:17 pm

Model ilmu pengetahuan secara cepat meningkatkan praktek kedokteran kepada kepastian patofisiologi penyakit dengan hasil pengertian yang lebih mendalam mengenai biologi tubuh manusia dan meningkatkan kesembuhan/ perbaikan dari penyakit (1) . Namun hasil lain yang tidak diharapkan adalah terjadinya erosi hubungan dokter – pasien. Implikasi lain dari sangat majunya ilmu pengetahuan kedokteran adalah keinginan untuk mengerti basis molekuler dari sistem kehidupan. Asumsi ini memungkinkan dan dipercaya oleh banyak praktisi kedokteran dapat memecahkan semua masalah kedokteran / penyakit (1). Namun ternyata ilmu yang sedemikian maju tersebut belum sepenuhnya mampu memecahkan berbagai masalah klinik komplek yang saat ini masih belum dimengerti benar mengenai mekanismenya dan pengobatannya pun kadang tidak efektif (1,2).

Perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran yang sedemikian pesat telah banyak menciptakan spesialis dan subspesialis. Semuanya memang sangat diperlukan , namun hal tersebut juga membuat seorang praktisi kedokteran hanya memperhatikan potongan kecil permasalahan pasien (1).

Seringkali pendekatan melalui proses konsultasi dan pendekatan holistik pada pengobatan komplementer dapat membantu pasien untuk lebih mengontrol penyakit mereka (2 ). Namun sayangnya cara seperti ini tidak sering dilakukan karena praktisi kedokteran dengan pengetahuan , sikap dan terlatih mengenai hal ini hanya beberapa saja (3). Di sisi lain pengobatan komplementer mempunyai variasi yang sangat besar. Mulai dari ‘yang tidak masuk akal” bahkan berbahaya sampai yang memang bermanfaat. Dalam situasi seperti ini , pasien membutuhkan praktisi kedokteran yang mempunyai pengetahuan biomedik untuk membedakan hal tersebut (3). Para praktisi dan peneliti kedokteran seringkali menggunakan istilah kedokteran integratif sebagai gabungan dari pengobatan alternatif dan komplementer (PKA) dengan ilmu kedokteran konvensional. Sebenarnya pengertian kedokteran integratif menekankan pada sistem yang lebih tinggi yang memperhatikan wellness dan healing pada individu secara keseluruhan ( dimensi bio-psiko-sosio-spiritual ) sebagai tujuan utama, melalui pendekatan ilmu kedokteran konvensional maupun alternatif dalam konteks suportif dan hubungan dokter – pasien yang efektif (1,3,4). Kedokteran integratif juga memfokuskan pada pencegahan dengan memperhatikan : pola hidup, diet, olah raga, manajemen stress ,dan pengaturan emosional (3).

Institusi pendidikan kedokteran mempunyai peranan sangat penting dalam mengembangkan konsep kedokteran integratif . Banyak hal yang dapat dilakukan institusi pendidikan dalam hal kedokteran integratif ini (1) , diantaranya :
1. Memfokuskan kembali pasien sebagai individu yang utuh dan hubungan dokter – pasien
2. Melibatkan pasien sebagai bagian aktif dari proses kesembuhannya dengan mengajarkan setiap pasien cara yang terbaik untuk meningkatkan derajat kesehatannya
3. Tetap terbuka untuk mengerti kelebihan maupun keterbatasan ilmu kedokteran konvensional dan menyadari bahwa ilmu pengetahuan kedokteran tersendiri tidak efektif dalam mengatasi semua kebutuhan komplek pasien kita (1,2)
4. Memberikan pada mahasiswa kedokteran , dasar PKA termasuk prinsip dasar seperti bukti mengenai efektifitasnya maupun kerugiannya. Tanpa adanya pendidikan tambahan mengenai PKA , para praktisi nantinya tidak dapat berfungsi sebagai dokter yang mampu menerima informasi serta tuntunan yang akurat untuk pasiennya (1,2,5) . Survei yang dilakukan pada 302 dokter di Denver menunjukkan bahwa 84 % menginginkan pendidikan lebih lanjut mengenai PKA dengan alasan utama : agar dapat mengetahui keamanan dan keefektifan PKA sehingga mampu mendiskusikannya dengan pasien ( 6)
5. Mahasiswa kedokteran sebaiknya diajarkan pula bagaimana menemukan dan mengevaluasi bukti keefektifan dan keamanan dari pengobatan komplementer. Dengan tujuan akhir mahasiswa kedokteran mendapatkan ketrampilan tambahan mengenai keterbukaan, rasa sensitif kepada masalah kultural maupun kepercayaan, komunikasi dan mampu melakukan critical appraisal terhadap berbagai literatur mengenai PKA (7)
6. Dilakukan penelitian klinik untuk mengetahui efektifitas PKA. Penelitian ini penting karena hasilnya dapat digunakan sebagai dasar evaluasi bagi keamanan , kerasionalan penggunaannya , kepuasan pasien dan analisa biaya saat PKA diintegrasikan pada kedokteran konvensional (1,2 8 )
. 7. Tetap memperhatikan segi spiritual dan kebutuhan emosional pasien dan menyarankan penggunaan terapi PKA yang sesuai jika memang meningkatkan penyembuhan dari kedokteran konvensional
8. Penelitian pada Human Healing sebaiknya selalu menanyakan pada berbagai tingkatan seperti : faktor-faktor yang memfasilitasi atau menghambat proses kesembuhan pada seorang individu, potensi –potensi yang bisa dikembangkan dan faktor-faktor keterbatasannya
9. Kita dapat belajar dari berbagai ‘sisi lain’ lain ilmu kedokteran seperti efek plasebo, hipnoterapi, studi psikososial, dan pendekatan spiritual. Kedokteran komplementer bukanlah akhir dari semua terapi ‘ sisi lain’ tersebut, tapi dapat berfungsi sebagai wadah yang umum untuk suatu perubahan yang kreatif (9)

Harapan di masa depan bahwa tiap penyakit yang diderita selalu ditanyakan apa masalahnya, terapi spesifiknya dan bagaimana cara meningkatkan respon kesembuhan diri , serta adakah bukti ilmiahnya (9).

KEDOKTERAN INTEGRATIF PADA PENANGANAN KANKER SEBAGAI CONTOH MODEL. Pada pengobatan kanker , terapi konvensional yang ada dirasakan pula keterbatasannya (10 ) . Di sisi lain ada pula peningkatan ketertarikan para praktisi untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai aspek-aspek terbaik yang dapat diambil dari terapi komplementer (2,6) .

Pengobatan kanker secara integratif di US menggunakan terapi konvensional seperti kemoterapi, pembedahan, radioterapi dan dilengkapi dengan terapi psikologi, relaksasi, tumpangan tangan ( therapeutic touch ) , terapi nutrisi, spiritual, dan ‘alternative immune therapi’. Berikut ini diungkapkan beberapa prinsip terapi kanker integratif tersebut (10):
1. Terapi kanker difokuskan pada individu secara menyeluruh dan tidak hanya pada penyakit kanker itu sendiri. Sesuai dengan prinsip Hipokrates ‘ Be benefit and do no harm ‘ , merupakan suatu instruksi eksplisit kepada fokus individu yang menyeluruh. Terapi kanker yang secara teknik berhasil dalam mempertahankan kehidupan fisik namun meninggalkan pasien dalam kondisi tubuh yang tidak dapat ditolerir oleh dirinya , tidaklah sesuai dengan prinsip tersebut
2. Ada perbedaan mendasar mengenai kata Curing dan Healing. To Cure berasal dari bahasa latin Curare yang artinya to take care atau charge off , yang menekankan pada suksesnya suatu terapi medis; sedangkan Heal berasal dari bahasa Inggris lama Haelen yang berarti Become whole yang erat berhubungan dengan kata Holy. Jadi kata Healing memberi tempat pada setiap tingkat termasuk fisik, emosional, mental dan juga spiritual. Jadi ada saat dimana pasien dapat “cured “namun tidak ” healed “. Adapula saat dimana kita dapat membantu pasien untuk “ Heal “ meskipun kita tidak dapat “membebaskan” penyakitnya
3. Pada Banyak kasus kanker yang resisten terhadap suatu terapi konvensional , tidak ada paket khusus optimal yang dapat diberikan pada suatu jenis kanker yang sama. Setiap pasien mempunyai pendekatan terapi integratif yang berbeda. Tiap individu adalah spesifik dan adanya Biochemical individuality. Tiap pasien mempunyai latar belakang etiologi , sosio-kultural berbeda. Pendekatan individu secara menyeluruh penting dan tidak hanya memfokuskan terhadap penyakitnya ( It’s more important to know what kind of patient has the disease than what kind the disease the patient has )
4. Memperbesar harapan pasien dalam suatu keadaan ketidakpastian bukanlah merupakan suatu kesalahan. Pada kasus kanker selalu ada kelompok pasien yang mengalami remisi maupun tetap ‘survive’. Kelompok ini dapat dijadikan sebagai pusat perhatian harapan positif pasien kanker.
5. Pada pendekatan terapi integratif , jika suatu terapi komplementer tidak menimbulkan efek yang membahayakan bagi pasien maka terapi komplementer tersebut mungkin berguna dengan cara meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dengan mengikutsertakan pasien secara aktif dalam proses pengobatan dan dapat memberikan pula efek plasebo positif. Pasien pengguna terapi komplementer seringkali mempunyai harapan kesembuhan yang tinggi dibandingkan dengan pasien pengguna terapi konvensional. Harapan pasien berkorelasi dengan hasil terapi. Terapi akan menjadi seolah lebih efektif bila pasien sebelumnya mempunyai harapan yang besar terhadap terapi tersebut (11).
6. Terapi integratif juga menekankan pada kenyamanan pasien dan terbinanya hubungan baik antar dokter –pasien – keluarga ( to cure occasionally , relieve sometime, comfort always ).

SIMPULAN Kedokteran integratif menekankan pada hubungan dokter-pasien sebagai titik sentral. Kedokteran konvensional dapat memanfaatkan sisi positif PKA untuk membantu kesembuhan pasien dalam suatu program terapi yang terintegratif

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s