Kedengarannya ekstrem. Tapi ini salah satu saran seorang dokter spesialis anak asal Amerika kepada para orang tua agar perkembangan otak dan kemampuan anak berkembang dengan baik.
Kalau anak-anak dibiarkan bebas sebebas-bebasnya menonton TV, video, dan main game di komputer, apa yang terjadi terhadap pertumbuhan dan kemampuan belajar mereka?
Itulah pertanyaan yang mengusik benak Susan R. Johnson, M.D., dokter spesialis anak asal San Francisco dan pernah mendalami ilmu kesehatan anak yang berkaitan dengan perilaku dan perkembangan.
“Ratusan anak mengalami kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan, dan melakukan gerakan motorik kasar maupun halus. Kebanyakan mereka memenemui kesulitan dalam berhubungan dengan orang dewasa dan kelompok seusianya,” paparnya.
Semula ia menduga, itu melulu akibat tayangan di televisi yang sering menampilkan kekerasan (terutama film kartun) dan semua iklan ditujukan pada mereka. Tetapi, baru semenjak kelahiran anaknya enam tahun lalu ia berhadapan dengan dampak yang sesungguhnya.
Saat bermain di luar, jelas Susan, anaknya bisa asyik mengamati binatang kecil atau serangga, bikin mainan dari ranting dan batu, atau main air dan pasir. Ia tampak begitu damai dengan dirinya, tubuhnya, dan lingkungannya. Tetapi begitu di depan TV, ia begitu cuek dengan si ibu maupun lingkungannya.
“Waktu saya matikan TV-nya, ia gelisah, senewen, dan selalu berteriak minta dinyalakan lagi. Tingkah polahnya kacau dan gerakan-gerakannya impulsif. Boro-boro bikin kreasi sendiri, ia justru meniru saja apa yang dilihatnya di TV dengan gerakan yang tidak kreatif, kaku, dan diulang-ulang.”
Saat berusia 3,5 tahun, dia ajak anaknya mengunjungi sepupunya naik pesawat. Di pesawat diputar film Mission: Impossible. Kebetulan mereka tidak kebagian earphone sehingga yang tertangkap hanya gambarnya. Tapi justru karena itulah, “Ia mendapat mimpi buruk dan takut pada api atau bunyi ledakan selama enam bulan setelahnya, dan perilakunya berubah.”
Setahun kemudian ia meneliti enam orang anak berusia 8 – 11 tahun yang semuanya memiliki kesulitan membaca di Pusat Kesehatan Sekolah. Menurut Susan, “Kalau saya tunjukkan sejumlah huruf lalu saya minta mengenali huruf tertentu, mereka dapat melakukannya. Tapi kalau saya tidak menunjukkan apa-apa – berarti tanpa masukan visual – lalu saya suruh menuliskan huruf tertentu, mereka tidak bisa.”
Timbul pertanyaan :
- Apa yang terjadi pada anak yang sedang tumbuh dan berkembang jika mereka dipapari rangsangan audio dan visual pada saat bersamaan?
- Berapa banyak kemampuan otak yang hilang atau bahkan tidak berkembang akibat kebiasaan itu?
Tiga tahap perkembangan otak
- Kemampuan anak ibarat benih yang perlu dipelihara dan dipupuk agar tumbuh dengan baik. Kalau lingkungan tidak memberikan pemeliharaan dan perlindungan terhadap rangsangan yang berlebihan, maka potensi serta kemampuan-kemampuan tertentu tidak dapat terwujud.
Anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. Tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode di mana miliaran sel glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang.
Otak anak usia 6 – 7 tahun besarnya dua pertiga otak orang dewasa, tapi memiliki 5 – 7 kali lebih banyak sambungan antarneuron daripada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antarneuron. Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10 – 11 tahun jika tidak dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam otak dan melarutkan semua jalur atau “urat” syaraf (pathways) yang tidak termielinasi dengan baik (mielinasi adalah proses pembungkusan jalur syaraf dengan myelin yang berujud protein-lemak).
Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling brain), dan akhirnya ke neocortex (atau disebut juga thought brain, otak pikir).
Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi “hadapi atau lari” (fight or flight response) bagi tubuh. “Kita akan bereaksi secara fisik dan emosi lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi,” papar dr. Susan.
Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat “dikunci” untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang tidak.
Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan.
Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang “urat” syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.
Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat sepon.
“Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang,” papar Susan.
Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak pikir.
RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian terhadap lingkungan.
Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 – 7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespons citra visual. Ketika menonton TV, belahan otak kanan inilah yang paling dominan kerjanya.
Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus.
Pentingnya aktivitas motorik kasar
- Kedua belahan otak itu dijembatani oleh bundel “urat” syaraf yang disebut corpus collosum. Sisi kanan dan kiri tubuh saling berkoordinasi melalui jembatan ini.
Aktivitas motorik kasar seperti lompat tali, memanjat, lari, serta aktivitas motorik halus macam menggambar, merenda, membuat origami, dan bikin kue merupakan akitivitas penting bagi proses mielinasi C. collosum. Jalur ini memungkinkan kemampuan berpikir analitis (otak kiri) dan intuitif (otak kanan) untuk saling mempengaruhi. Sejumlah ahli neuropsikologi percaya, buruknya perkembangan jembatan ini mempengaruhi komunikasi efektif antara belahan otak kanan dan kiri. Diduga, inilah penyebab timbulnya kesulitan perhatian dan belajar pada anak.
Pertanyaannya kemudian, apa kerugian otak dengan menonton televisi ?
Televisi sesungguhnya hanya memberikan informasi kepada dua indera: mata dan telinga. Padahal ketajaman visual dan pandangan tiga dimensional pada anak belum berkembang sepenuhnya sampai usia empat tahun. Gambar yang dihasilkan layar televisi itu gambar dua dimensi, tidak fokus dan kabur karena tersusun dari titik-titik sinar. Itu membuat mata anak-anak harus memaksa diri agar gambar menjadi jelas.
Televisi, juga barang elektronik lain, memancarkan gelombang elektromagnetik. Maka disarankan, posisi menonton setidaknya 120 cm dari TV dan 45 cm dari layar komputer.
Sistem visual yang meliputi kemampuan mencari (search out), memindai (scan), memfokus, dan mengidentifikasi apa yang masuk ke bidang pandang, terganggu oleh kegiatan menonton TV. Padahal keterampilan visual ini perlu dikembangkan dalam kaitannya dengan membaca efektif. Saat menonton, pupil mata anak tidak melebar, dan nyaris tidak ada gerakan mata yang justru penting dalam kegiatan membaca. Mata dituntut terus bergerak dari kiri ke kanan halaman saat membaca.
Kemampuan untuk memusatkan perhatian juga mengandalkan sistem visual ini. Sementara itu gambar-gambar televisi yang berubah secara cepat tiap 5 – 6 detik pada kebanyakan tayangan acara dan 2 – 3 detik pada iklan, membuat otak pikir tidak punya kesempatan memproses image. Padahal otak pikir perlu 5 – 6 detik untuk memproses gambar begitu mendapat stimulus.
Sebabkan kecemasan kronis
- Membaca buku, berjalan-jalan di alam, atau bercakap dengan orang lain – di mana anak punya kesempatan untuk merenung dan berpikir – jauh lebih mendidik daripada menonton TV.
Kegiatan ini meniadakan pengalaman berharga itu. Menonton TV merupakan pekerjaan tanpa akhir, tanpa tujuan, dan tak bikin “kenyang”. Tidak seperti makan dan tidur yang bisa bikin perut kenyang dan badan tidak capek lagi, menonton TV tidak ada ujungnya. “TV membuat anak ingin terus menonton tanpa pernah merasa puas,” ungkap Susan.
Bagaimana dengan Sesame Steet, misalnya? Bukankah acara itu mendidik dan di sana anak diajari cara membaca?
Sesame Street dan kebanyakan acara televisi untuk anak, papar Susan, meletakkan belahan otak kiri dan sebagian belahan otak kanan ke dalam gelombang alfa (slow wave of inactivity). Televisi membius fungsi-fungsi otak pikir dan merusak keseimbangan serta interaksi antara belahan otak kiri dan kanan.
Secara umum, membaca menghasilkan gelombang beta cepat dan aktif, sedangkan menonton televisi meningkatkan gelombang alfa lambat di belahan otak kiri dan kanan. Belahan kiri merupakan pusat penting dalam kegiatan membaca, menulis, dan berbicara. Otak kiri merupakan tempat di mana simbol-simbol abstrak (misalnya huruf-huruf alfabet) dikaitkan dengan bunyi. Sumber cahaya televisi yang berpendar dan bergetar diduga ada kaitannya dengan meningkatnya aktivitas gelombang lambat itu.
Otak primitif tidak dapat membedakan mana gambar riil dan mana gambar di TV karena penglihatan merupakan tanggung jawab otak pikir. Karena itu, ketika TV menayangkan gambar-gambar close-up dan gambar-gambar bercahaya secara tiba-tiba, otak primitif bersama otak limbik segera menyiapkan respons “hadapi atau lari” dengan melepaskan hormon dan bahan kimia ke seluruh tubuh. Degup jantung dan tekanan darah naik. Darah yang mengalir ke otot-otot anggota badan meningkat, bersiap-siap menghadapi keadaan bahaya.
Karena itu terjadi dalam tubuh tanpa diikuti gerakan-gerakan yang sesuai dari anggota badan, maka acara-acara TV tertentu sesungguhnya meletakkan kita ke dalam suatu keadaan stres atau kecemasan kronis. Berbagai studi menunjukkan, pada orang dewasa yang mengalami stres kronis pertumbuhan belahan otak kirinya terhenti (atrophy).
Ketika otak anak dipapari rangsangan visual sekaligus suara, yang diserap hanyalah visualnya. Ilustrasi tentang fenomena ini dapat dilihat pada sekelompok anak (6 – 7 tahun) yang disuguhi tontonan video yang suaranya tidak sesuai dengan gerakan visualnya. Begitu ditanya, mereka tidak ngeh kalau suara dan gambarnya tidak klop. Itu artinya, mereka tidak menyerap isi tontonannya. Begitu pula dengan Sesame Street.
Inteligen hati
- Namun, masih ada yang berkilah, “Apa salah memanfaatkan televisi sekadar untuk hiburan? Saya suka menonton film-film Disney macam Snow White.”
Televisi memiliki efek begitu dalam terhadap kehidupan perasaan atau jiwa kita. Menonton televisi membuat kita terlepas dari kehidupan nyata. Di kursi yang nyaman di ruang yang sejuk dengan banyak makanan, kita duduk menonton para tunawisma, orang kelaparan atau menderita di layar kaca. Kita tersentuh melihat nasib mereka, tetapi tidak berbuat apa-apa. Orang boleh bilang, membaca buku pun dapat membangkitkan perasaan serupa tanpa berbuat apa-apa.
Namun, menurut dr. Susan, saat sedang membaca buku (yang tidak banyak gambarnya), pikiran bisa berimajinasi dan punya kesempatan memikirkannya. Pikiran itu dapat menggiring anak kepada gagasan yang menimbulkan inspirasi untuk melakukan sesuatu. Televisi tidak begitu.”
“Kita tidak akan lupa dengan apa yang pernah kita lihat. Otak limbik dihubungkan dengan memori, dan gambar di TV kita ingat entah secara sadar, tanpa sadar, atau bawah sadar. Maka, kita hampir tidak mungkin menciptakan imajinasi tentang Snow White dari buku cerita jika kita sudah pernah menonton filmnya. Sebaliknya, orang sering kecewa ketika menonton film setelah membaca bukunya. Imajinasi kita itu jauh lebih kaya daripada apa yang dapat ditunjukkan di layar film,” papar dr. Susan.
Ketika menonton televisi, anak-anak tidak menggunakan imajinasi sama sekali. Itu berarti bagian tertentu di otak pikir untuk menciptakan gambaran (yang merupakan fondasi bagi angan-angan, intuisi, inspirasi, dan imajinasi), kurang dilatih.
Kita dibekali kemampuan yang disebut heart intelligence yang perlu dikembangkan antara lain dengan berinteraksi dengan orang lain. “Kita mengalami bahasa nonverbal mereka, misalnya bagaimana ia bergerak, bagaimana nada suaranya, apakah ia menatap ke arah lain saat bicara. Inilah cara kita belajar melihat konsistensi antara isyarat verbal dan nonverbal untuk menemukan kebenaran,” jelas dr. Susan.
Televisi tidak bisa mengembangkan kemampuan itu. (intisari)
Matikan Saja TV Anda !! September 12, 2008
Menelan Kapsul Melongok Usus Halus September 12, 2008
|
Meneropong isi usus halus kini semakin mudah dilakukan dan hasilnya makin optimal untuk men-diagnosis suatu penyakit. Pasien juga merasa lebih nyaman ketimbang harus menjalani pemeriksaan dengan metode yang ada sebelumnya. Lewat kapsul yang ditelan, kondisi kesehatan usus halus bisa dideteksi dengan baik. Matthew Anci (25), atlet bola basket di kampusnya, boleh dikata sehat bugar. Seminggu tiga kali ia main basket. Belum lagi kegiatan olahraga rekreasi yang juga dijalani di sela-sela jadwal kuliahnya. Namun, tampak luar bukan jamninan. Ketika sedang bermain bola basket, ia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Susah bernapas dan kepalanya agak sakit. Karena dikira sakit flu, Matthew cuek saja. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan tekanan darahnya drop. Ia lantas dilarikan ke unit gawat darurat. Di situ Matthew diberi tahu, ia kehilangan separuh jumlah darah di tubuhnya. Matthew kemudian menjalani transfusi darah darurat dan didiagnosis menderita wasir internal. Ketika di rumah sakit, ia diperiksa secara lebih lengkap. Tiga bulan berikutnya ia tida mengalami gejala yang sama. Namun, ketika menjalani pemeriksaan gastrointestinal (GI) saat check-up rutin, lagi-lagi diketahui jumlah darahnya turun. Ia pun segera dilarikan ke rumah sakit lagi. Serangkaian uji dilakukan, tapi penyebab sakitnya belum juga ditemukan. Namun, dokter menduga, perdarahan yang dialami Matthew terjadi pada usus halusnya. Selama di rumah sakit Matthew menjalani uji pamungkas: GI bagian atas, kolonoskopi, suntikan barium (barium enema), pemindaian (scanning) perdarahan, serta pemindaian Meckel. Toh belum juga ada kata sepakat tentang diagnosis yang cocok buat Matthew. Akhirnya, endoskopi kapsul dianjurkan untuk dicoba. Setelah menelan “kapsul” berukuran 11 x 26 mm itu, dr. Schmelkin – yang melakukan pengujian – mendiagnosis Matthew terserang Meckle�s diverticulum. Sebuah kantung kecil di bagian bawah usus halus menyebabkan perdarahan pada daerah GI. Tambahan, bukan pengganti
Sebuah scope (teropong) yang lentur dimasukkan ke tubuh melalui mulut atau anus. Yang lewat mulut dikenal sebagai gastroskopi. Jika lewat anus dinamai kolonoskopi. Untuk meneropong kelainan pada pankreas dan empedu digunakan alat endoscopic retrograde cholangio pancreatography (ERCP). Secara khusus, panjang gastroskop lebih dari 2,5 m. Banyak pasien yang dicurigai menderita pembentukan ulkus, luka di usus, tumor, penyakit Crohn (semacam radang di saluran pencernaan), penyakit radang usus (IBD), dan sindrom iritasi usus (IBS) harus menjalani prosedur endoskopi macam ini. Namun, alat ini membuat pasien rata-rata stres gara-gara tidak nyaman sehingga perlu dibius. Selain itu, pemeriksaan endoskopi dengan metode gastroskopi dan kolonoskopi tidak mampu melihat seluruh sistem pencernaan dari mulut hingga anus. Dari atas hanya sampai usus 12 jari. Sementara kolonoskopi mentok sampai ujung usus halus. Usus halus tidak terjamah sama sekali. Padahal, seperti kasus Matthew Anci, banyak penyakit yang penyebabnya ada di situ. “Menggunakan endoskopi biasa sih bisa, tapi sangat tidak nyaman (buat pasien),” ujar dr. Widarjati Sudarto, spesialis penyakit dalam RS Mitra Keluarga, Kelapagading, Jakarta. Karena itu, Given Imaging Ltd. (Given kependekan dari GastroIntestinal Video Endoscopy), sebuah perusahaan dari Israel yang berdiri pada Januari 1998 bermimpi, alangkah indahnya jika kita bisa berkelana di dalam tubuh manusia seperti cerita fiksi ilmu pengetahuan! Mimpi itu ternyata berhasil mereka wujudkan melalui temuan mereka, kapsul endoskopi. Namun, Dr. Paul C. Swain dari London Royal College Hospital, yang terlibat dalam penemuan itu menjelaskan bahwa kapsul endoskopi bukanlah teknologi pengganti, tapi tambahan. “Teknologi ini tidak invasif, tidak mahal, mengurangi kecemasan, dan membuat pasien masih bisa beraktivitas sehari-hari sementara pemeriksaan berjalan,” katanya. Kebanyakan penyakit yang menyerang usus halus berhubungan dengan infark, peradangan, dan pembentukan ulkus di wilayah usus halus. Mereka tidak bisa dideteksi melalui endoskopi atau radiologi. “Radiologi tidak bisa mengambil polip kurang dari 5 mm, tapi kapsul endoskopi tanpa kesulitan bisa mengendus sampai resolusi 0,1 mm,” promosi dr. Gavriel Meron, direktur utama Given Imaging Ltd. Maju mundur sama saja
Jika sudah siap, pasien tinggal menelan sebuah kapsul. Sebuah perekam nirkabel yang dilengkapi dengan delapan sensor yang dipasang di delapan titik (tiga buah di perut bagian atas, tiga di perut bagian tengah, serta dua di perut bagian bawah di atas pangkal paha) dan terpasang di sabuk pasien menerima sinyal yang dikirimkan kapsul. Dengan begitu pasien masih bisa melakukan kegiatan sehari-harinya selama menjalani pemeriksaan GI. Di dalam kapsul mungil itu tersimpan kamera mini dengan sudut pandang 140o. Berhubung lorong yang dilalui gelap, kapsul itu dilengkapi senter dari jenis light emiting diode (LED). Tentu butuh baterai sebagai catu daya. Baterainya mampu bertahan 8 – 10 jam. Diperkirakan, selama itulah perjalanan menyusuri lorong pencernaan manusia. Baterai ini tidak bisa diisi ulang. “Jadi, jangan khawatir Anda akan diberi kapsul bekas,” canda dr. Widarjati. Sensor gambar yang dibawanya buatan Micron dan berjenis complementary metal-oxide semiconductor (CMOS). CMOS ini tidak boros tenaga dalam mengambil gambar berkualitas tinggi dibandingkan dengan charged coupled device (CCD). Kapsul itu berjalan karena gerak peristaltik usus. Ini gerak normal usus yang mirip tangan meremas. Begitu kemasan kapsul dibuka, otomatis lampu langsung menyala. Begitu ditelan, kapsul dengan cepat masuk ke lambung. Melalui gelombang radio, gambar yang terekam dikirim ke sebuah chip yang tersimpan di pinggang pasien melalui delapan sensor tadi. Selama sekitar delapan jam beroperasi, gambar yang terekam berjumlah sekitar 57.000 citra. Kira-kira dua frame per detik. Setelah selesai, perekam nirkabel tadi ditempatkan di sebuah dok khusus yang kemudian akan memindahkan gambar terekam ke peranti lunak khusus, Reporting and Processing of Images and Data (RAPID). Maka, terciptalah sebuah klip video yang berisi gambaran tentang bagian dalam usus halus. Karena tidak dikendalikan, bisa saja jalannya kapsul itu maju atau mundur. “Hasilnya toh sama saja. Soalnya usus halus itu sempit sekali sehingga gambar yang terekam ya kondisi permukaan dinding usus halus. Beda dengan lambung atau usus 12 jari. Kapsul bisa jadi hanya merekam sebagian sisi saja sehingga hasilnya tidak akurat,” jelas dr. Widarjati. Selama masa pengembangan, sempat muncul pemikiran untuk menaruh chip perekam di dalam kapsul. Setelah kapsul menelusuri tubuh pasien, chip diambil untuk dianalisis hasil rekamannya. Dengan begitu tidak perlu lagi sensor yang ditempelkan pada tubuh pasien dan perekam nirkabel. Namun untuk mewujudkan gagasan itu sangat sulit, khususnya soal pemasangan kapasitas memori di ruangan kapsul yang mungil itu. Persoalan lain, bagaimana atau kapan mengetahui kapsul itu akan keluar. “Soalnya, pernah tercatat ada yang tiga bulan tidak keluar-keluar,” ujar Widarjati yang juga konsultan gastroentero hepatologi. Masak harus menunggu selama itu ? Lebih disukai pasien
Kapsul endoskopi ini mampu mendeteksi kelainan pada 12 pasien (60%) sementara push enterescopy hanya tujuh pasien dari 20 pasien uji (atau 35%). Ketika mendeteksi luka di usus, kapsul endoskopi berhasil menangkap luka pada 12 pasien dari 14 pasien uji (86%), dibandingkan dengan tujuh pasien dari 14 pasien uji (50%) jika menggunakan push enterescopy. Uji coba itu melibatkan 20 pasien dengan dugaan ada kelainan di usus halus. Seluruh pasien sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan endoskopi GI dan radiologi untuk mengidentifikasi sumber kelainan di usus halus mereka. Tak ada kesimpulan yang diperoleh dari serangkaian tes tadi. Blair S. Lewis, M.D., guru besar tidak tetap kedokteran klinis di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York dan anggota Dewan Penasihat Medis Given Imaging, yang mengomandani uji klinis itu berkomentar, “Sejauh yang saya tahu, kapsul endoskopi ini bisa mengidentifikasi penyakit-penyakit di usus halus yang tidak terendus oleh metode standar. Karena prosedur ini tidak perlu pembiusan, tentu saja pasien lebih suka cara ini daripada push enteroscopy.” Agustus 2001, kapsul endoskopi bermerek M2A ini memperoleh persetujuan dari FDA. Pasar Amerika Serikat memang menjanjikan, sebab di sini ada 60 – 70 juta orang yang terserang penyakit saluran pencernaan. Logo CE sendiri sudah diterima bulan Mei tahun yang sama. M2A bisa digunakan untuk mendiagnosis penyakit-penyakit yang ada di usus halus seperti penyakit Crohn, celiac, dan gangguan penyerapan lainnya, serta tumor (jinak dan ganas). Namun, tidak semua orang bisa menelan kapsul ini. Pada beberapa orang yang memiliki sumbatan-sumbatan di usus metode ini tidak dianjurkan. Takutnya, nanti kapsul tertahan sehingga pemeriksaan tidak berjalan mulus. Mereka yang pernah menjalani operasi perut dan memiliki kesulitan dalam menelan juga dilarang mencoba metode ini. source : http://depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=294 |
|
HaaattChiiiiii……………!!!!! September 12, 2008
Pernahkah anda sadar bahwa hal ini anda lakukan setiap anda bersin? Yaitu memejamkan mata alias merem. Yup… Setiap kali kita bersin maka mata kita akan terpejam dengan sendirinya tanpa harus kita perintah sebelumnya.
Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri itu. Syaraf-syaraf yang terdapat di hidung dan mata itu sebenarnya saling bertautan, sehingga pada saat kita bersin, maka secara otomatis mata kita akan terpejam. Hal ini untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang keluar dari membran hidung.
Selain itu, pada saat kita bersin, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdenyut atau berhenti berdetak untuk sementara (baca=sekejap). Setelah selesai bersin maka jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali. Oleh karena itu, dalam agama Islam kita disarankan untuk mengucapkan kalimat pujian kepada Tuhan yaitu “Alhamdulillah” yang artinya “Segala Puji bagi Allah”, karena jantung kita sudah berfungsi lagi normal seperti biasanya, setelah istirahat sejenak disebabkan oleh bersin kita tadi.
Satu lagi, saking kuatnya tenaga bersin kita, mata kita sampai terpejam. Jikalau mata kita tidak terpejam saat bersin, niscaya mata akan “melompat” keluar. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri…
Source : Bullbo Mas Sun (http://www.friendster.com/bulletin.php?bid=79617774&uid=14395163)